Sabtu kemarin, saya nonton di National Geographic Channel (NGC), NGC akan mematikan siaran pada tanggal 27 Maret 2010, hari Sabtu, selama satu jam dari 2030 - 2130 waktu NGC (nah dimanakah itu...), untuk mendukung Earth Hour.
Earth Hour adalah suatu acara oleh World Wildlife Fund, dimana kita diminta untuk tidak menyalakan listrik yang tidak penting, misalnya televisi, air conditioning, radio, komputer, dll. Earth Hour berhubungan dengan penghematan listrik.
Seperti kita ketahui, listrik dibangkitkan dengan pembakaran batu bara, minyak bumi, gas, dll. Dengan hanya menyalakan alat listrik yang esensial (penerangan), maka konsumsi listrik akan sedikit. Pengurangan penggunaan listrik pada saat Earth Hour mengurangi pembakaran, untuk mengatasi perubahan iklim. Jadi Earth Hour adalah tindakan nyata untuk meningkatkan kesadaran kita mengenai perubahan iklim.
Earth Hour dimulai pada tahun 2007 di kota Sydney, kerjasama antara WWF dengan koran lokal The Sydney Morning Herald. Pada tahun 2007 tersebut, 2.2 juta penduduk kota Sydney ikut memadamkan lampu non esensial. Earth Hour kemudian berlanjut pada tahun berikutnya pada kota-kota di seluruh dunia.
Pada tahun 2010 ini kota Jakarta, melalui Pemprov DKI, mengeluarkan surat edaran dan imbauan mengajak masyarakat turut mematikan lampu selama satu jam. Pada tahun 2009, terjadi penurunan daya listrik sebesar 50 MW selama satu jam Earth Hour, untuk tahun 2010 diharapkan dapat menghemat daya listrik sekitar dua sampai tiga kali lipat atau 100 - 150 Megawatt.
Rencana pemadaman listrik akan dilakukan pada lima ikon di DKI Jakarta, yakni Bunderan Hotel Indonesia dan air mancurnya, Monas dan air mancur menarinya, Gedung Balaikota DKI, Patung Pemuda, dan air mancur Patung Arjuna Wiwaha. Imbauan kepada sekitar 700 pengelola gedung bertingkat di wilayah DKI Jakarta untuk turut berpartisipasi memadamkan lampu kantor selama satu jam.
Earth Hour menyadarkan kita untuk lebih meningkatkan penggunaan energi terbarukan untuk menghasilkan tenaga listrik, seperti dengan menggunakan solar cells.
Tampilkan postingan dengan label Listrik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Listrik. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 Maret 2010
Sabtu, 06 Maret 2010
Edison Direct Current Tesla Alternating Current
Saya pernah nonton Discovery Channel, bagaimana Alternating Current - AC memberikan keuntungan dalam distribusi listrik. Alternating Current AC, adalah listrik yang kita dapatkan dari colokan listrik kita. Komputer, TV, Kulkas, semua perangkat elektronika di rumah menggunakan AC. DC atau Direct Current kita temui pada perangkat yang tidak memerlukan colokan listrik, misalnya handphone, senter, mainan anak-anak, dll. Sumber DC adalah baterai.
Salah satu penghasil DC adalah solar cell panel ataupun panel sel surya.
Thomas Alva Edison, seperti kita ketahui, adalah bapak bola lampu. Edison selain sebagai penemu, juga adalah seorang industrialis. Salah satu industri Edison adalah General Electric. Pada masa 1880-an, Edison memiliki paten distribusi listrik DC di Amerika Serikat. Listrik DC digunakan untuk lampu penerangan (bohlam).
Kekurangan dari DC adalah dari segi distribusi. Setiap bola lampu pada masa 1880-an memiliki tegangan DC 100 Volt. Distribusi dari pembangkit ke bola lampu adalah DC 110 Volt. Tegangan 110 Volt diberikan untuk antisipasi adanya loss/ kehilangan tegangan dari penghantar kawat listrik. Dengan demikian pembangkit listrik selalu dibangun dekat daerah pengguna listrik.
Nikola Tesla, memahami kekurangan dari DC, menawarkan AC Alternating Current. AC menggunakan transformer yang murah untuk mengubah tegangan listrik menjadi tinggi, sehingga mengurangi loss pada saat transmisi. P (daya listrik) = I (arus) x V (tegangan). P (panas oleh listrik) = I pangkat 2 (arus) x R (resistansi transmisi). Dengan AC, maka pembangkit besar dapat dibangun dengan distribusi jarak jauh.
Proyek sukses pertama adalah Niagara Falls, pembangkit listrik tenaga air. Listrik dari Niagara Falls, didistribusikan ke Buffalo. Tesla dan Westinghouse dengan proposal distribusi listrik menggunakan AC, menang melawan General Electric dan Edison dengan distribusi listrik DC.
Jadi itulah ceritanya. Kenapa komputer saya yang menggunakan listrik AC, padahal motherboard dan perangkat lainnya menggunakan listrik DC.
Salah satu penghasil DC adalah solar cell panel ataupun panel sel surya.
Thomas Alva Edison, seperti kita ketahui, adalah bapak bola lampu. Edison selain sebagai penemu, juga adalah seorang industrialis. Salah satu industri Edison adalah General Electric. Pada masa 1880-an, Edison memiliki paten distribusi listrik DC di Amerika Serikat. Listrik DC digunakan untuk lampu penerangan (bohlam).
Kekurangan dari DC adalah dari segi distribusi. Setiap bola lampu pada masa 1880-an memiliki tegangan DC 100 Volt. Distribusi dari pembangkit ke bola lampu adalah DC 110 Volt. Tegangan 110 Volt diberikan untuk antisipasi adanya loss/ kehilangan tegangan dari penghantar kawat listrik. Dengan demikian pembangkit listrik selalu dibangun dekat daerah pengguna listrik.
Nikola Tesla, memahami kekurangan dari DC, menawarkan AC Alternating Current. AC menggunakan transformer yang murah untuk mengubah tegangan listrik menjadi tinggi, sehingga mengurangi loss pada saat transmisi. P (daya listrik) = I (arus) x V (tegangan). P (panas oleh listrik) = I pangkat 2 (arus) x R (resistansi transmisi). Dengan AC, maka pembangkit besar dapat dibangun dengan distribusi jarak jauh.
Proyek sukses pertama adalah Niagara Falls, pembangkit listrik tenaga air. Listrik dari Niagara Falls, didistribusikan ke Buffalo. Tesla dan Westinghouse dengan proposal distribusi listrik menggunakan AC, menang melawan General Electric dan Edison dengan distribusi listrik DC.
Jadi itulah ceritanya. Kenapa komputer saya yang menggunakan listrik AC, padahal motherboard dan perangkat lainnya menggunakan listrik DC.
Jumat, 27 November 2009
Cara Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Panel surya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menghasilkan energi listrik dengan mengkonversikan tenaga matahari menjadi listrik. Sel silikon (di dalam solar cells atau sel surya) yang ada di panel surya (solar panel) disinari matahari/ surya, membuat photon bergerak menuju electron dan menghasilkan arus dan tegangan listrik. Sebuah solar cells/ sel surya menghasilkan kurang lebih tegangan 0.5 Volt. Jadi sebuah panel surya 12 Volt terdiri dari kurang lebih 36 sel surya (untuk menghasilkan 17 Volt tegangan maksimun).
Perbedaan dari sel surya adalah dari materi pembuatannya:
Polikristal (Poly-crystalline)
Merupakan panel surya yang memiliki susunan kristal acak. Type Polikristal memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis monokristal untuk menghasilkan daya listrik yang sama, akan tetapi dapat menghasilkan listrik pada saat mendung.
Monokristal (Mono-crystalline)
Merupakan panel yang paling efisien, menghasilkan daya listrik persatuan luas yang paling tinggi. Kelemahan dari panel jenis ini adalah tidak akan berfungsi baik ditempat yang cahaya mataharinya kurang (teduh), efisiensinya akan turun drastis dalam cuaca berawan.
Amorphous
Amorphous atau juga disebut thin film, adalah jenis yang paling tidak efisien. Untuk menghasilkan daya yang sama dengan crystalline, memerlukan permukaan sebesar dua kali.
Arus dan tegangan yang dihasilkan oleh panel surya dialirkan melalui kabel ke solar charge controller. Fungsi charge controller adalah untuk mengatur pengaturan pengisian baterai. Tegangan maksimun yang dihasilkan panel surya pada hari yang terik akan menghasilkan tegangan tinggi dan dapat merusak baterai.
Inverter, diperlukan apabila kita menggunakan perangkat Alternating Current (AC). Inverter adalah perangkat elektrik yang mengkonversikan tegangan searah (DC - direct current) dari baterai menjadi tegangan bolak balik (AC - alternating current).
Sistem PLTS terdiri dari:
* Panel surya/ solar panels
* Solar charge controller
* Baterai
* Inverter
Untuk perhitungan implementasi dapat dibaca juga di blog ini: Belajar Tenaga Surya Untuk Listrik dan Penerangan dan website Tenaga Surya.
Perbedaan dari sel surya adalah dari materi pembuatannya:
Polikristal (Poly-crystalline)
Merupakan panel surya yang memiliki susunan kristal acak. Type Polikristal memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis monokristal untuk menghasilkan daya listrik yang sama, akan tetapi dapat menghasilkan listrik pada saat mendung.
Monokristal (Mono-crystalline)
Merupakan panel yang paling efisien, menghasilkan daya listrik persatuan luas yang paling tinggi. Kelemahan dari panel jenis ini adalah tidak akan berfungsi baik ditempat yang cahaya mataharinya kurang (teduh), efisiensinya akan turun drastis dalam cuaca berawan.
Amorphous
Amorphous atau juga disebut thin film, adalah jenis yang paling tidak efisien. Untuk menghasilkan daya yang sama dengan crystalline, memerlukan permukaan sebesar dua kali.
Arus dan tegangan yang dihasilkan oleh panel surya dialirkan melalui kabel ke solar charge controller. Fungsi charge controller adalah untuk mengatur pengaturan pengisian baterai. Tegangan maksimun yang dihasilkan panel surya pada hari yang terik akan menghasilkan tegangan tinggi dan dapat merusak baterai.
Inverter, diperlukan apabila kita menggunakan perangkat Alternating Current (AC). Inverter adalah perangkat elektrik yang mengkonversikan tegangan searah (DC - direct current) dari baterai menjadi tegangan bolak balik (AC - alternating current).
Sistem PLTS terdiri dari:
* Panel surya/ solar panels
* Solar charge controller
* Baterai
* Inverter
Untuk perhitungan implementasi dapat dibaca juga di blog ini: Belajar Tenaga Surya Untuk Listrik dan Penerangan dan website Tenaga Surya.
Label:
Listrik,
PLTS,
solar cell
Sabtu, 10 Oktober 2009
Menghemat Penggunaan Energi dengan Virtualisasi Komputer
Processor yang dikembangkan saat ini mengikut Moore Law, dimana kecepatan pertumbuhan kecepatan perhitungan processor adalah eksponensial, tetapi sebenarnya penggunaan kita sehari-hari tidak membutuhkan 'kemewahan' seperti itu. Memang ada server yang bekerja sangat keras, untuk melayani pengguna yang banyak dan memerlukan proses yang cepat. Contohnya web site blogger ini, google melayani searching dan indexing. Melayani ribuan atau jutaan orang setiap detik.
Tetapi komputer yang kita gunakan sehari-hari, paling juga digunakan untuk browsing internet, buat karangan dengan word processing, buat spreadsheet, main game, hanya menggunakan kurang lebih rata-rata 10% dari processing powernya.
Makanya sekarang ada Intel Atom, processor yang lebih murah, yang katanya processing power nya di bawah dari Pentium, dan karenanya lebih murah, menggunakan daya listrik lebih sedikit.
Karena penggunaan kemampuan processor tersebut yang masih belum maksimun, disarankan komputer divirtualisasi. Virtualisasi adalah penggunaan satu unit komputer, menjadi seakan-akan beberapa unit komputer (virtual). Dalam virtualiasasi, sumber daya komputer, seperti processor, memory, hardisk, network card, di share untuk beberapa operating system, jadi seakan akan ada beberapa komputer.
Untuk virtualiasi kebutuhan minimal adalah Pentium D, dengan memory yang besar. Komputer kita install Linux Ubuntu, kemudian kita install aplikasi virtualisasi seperti VMWare. Kemudian di dalam Ubuntu, di dalam VMWare kita bagi install beberapa Operating System lain. Misalnya OpenSuse, Windows XP, OpenBSD, FreeBSD, dll. Setiap Operating System baru tersebut kita simpan menjadi file dari VMWare di dalam Ubuntu. Memory yang digunakan adalah memory dari server, jadi misalnya server kita 1 GB, dengan Ubuntu kita gunakan 256 MB, maka jika setiap Operating System di dalam VMWare menggunakan 256 MB memory, kita bisa menjalankan 3 guest Operating System.
Dengan demikian kita sudah menghemat penggunaan energi dengan meng-virtualisasikan komputer. Bayangkan dalam hal diatas, satu komputer menggunakan 150 Watt, kita menghemat 450 Watt.
Tetapi komputer yang kita gunakan sehari-hari, paling juga digunakan untuk browsing internet, buat karangan dengan word processing, buat spreadsheet, main game, hanya menggunakan kurang lebih rata-rata 10% dari processing powernya.
Makanya sekarang ada Intel Atom, processor yang lebih murah, yang katanya processing power nya di bawah dari Pentium, dan karenanya lebih murah, menggunakan daya listrik lebih sedikit.
Karena penggunaan kemampuan processor tersebut yang masih belum maksimun, disarankan komputer divirtualisasi. Virtualisasi adalah penggunaan satu unit komputer, menjadi seakan-akan beberapa unit komputer (virtual). Dalam virtualiasasi, sumber daya komputer, seperti processor, memory, hardisk, network card, di share untuk beberapa operating system, jadi seakan akan ada beberapa komputer.
Untuk virtualiasi kebutuhan minimal adalah Pentium D, dengan memory yang besar. Komputer kita install Linux Ubuntu, kemudian kita install aplikasi virtualisasi seperti VMWare. Kemudian di dalam Ubuntu, di dalam VMWare kita bagi install beberapa Operating System lain. Misalnya OpenSuse, Windows XP, OpenBSD, FreeBSD, dll. Setiap Operating System baru tersebut kita simpan menjadi file dari VMWare di dalam Ubuntu. Memory yang digunakan adalah memory dari server, jadi misalnya server kita 1 GB, dengan Ubuntu kita gunakan 256 MB, maka jika setiap Operating System di dalam VMWare menggunakan 256 MB memory, kita bisa menjalankan 3 guest Operating System.
Dengan demikian kita sudah menghemat penggunaan energi dengan meng-virtualisasikan komputer. Bayangkan dalam hal diatas, satu komputer menggunakan 150 Watt, kita menghemat 450 Watt.
Label:
Hemat energi,
Listrik,
VMWare
Langganan:
Postingan (Atom)

