Processor yang dikembangkan saat ini mengikut Moore Law, dimana kecepatan pertumbuhan kecepatan perhitungan processor adalah eksponensial, tetapi sebenarnya penggunaan kita sehari-hari tidak membutuhkan 'kemewahan' seperti itu. Memang ada server yang bekerja sangat keras, untuk melayani pengguna yang banyak dan memerlukan proses yang cepat. Contohnya web site blogger ini, google melayani searching dan indexing. Melayani ribuan atau jutaan orang setiap detik.
Tetapi komputer yang kita gunakan sehari-hari, paling juga digunakan untuk browsing internet, buat karangan dengan word processing, buat spreadsheet, main game, hanya menggunakan kurang lebih rata-rata 10% dari processing powernya.
Makanya sekarang ada Intel Atom, processor yang lebih murah, yang katanya processing power nya di bawah dari Pentium, dan karenanya lebih murah, menggunakan daya listrik lebih sedikit.
Karena penggunaan kemampuan processor tersebut yang masih belum maksimun, disarankan komputer divirtualisasi. Virtualisasi adalah penggunaan satu unit komputer, menjadi seakan-akan beberapa unit komputer (virtual). Dalam virtualiasasi, sumber daya komputer, seperti processor, memory, hardisk, network card, di share untuk beberapa operating system, jadi seakan akan ada beberapa komputer.
Untuk virtualiasi kebutuhan minimal adalah Pentium D, dengan memory yang besar. Komputer kita install Linux Ubuntu, kemudian kita install aplikasi virtualisasi seperti VMWare. Kemudian di dalam Ubuntu, di dalam VMWare kita bagi install beberapa Operating System lain. Misalnya OpenSuse, Windows XP, OpenBSD, FreeBSD, dll. Setiap Operating System baru tersebut kita simpan menjadi file dari VMWare di dalam Ubuntu. Memory yang digunakan adalah memory dari server, jadi misalnya server kita 1 GB, dengan Ubuntu kita gunakan 256 MB, maka jika setiap Operating System di dalam VMWare menggunakan 256 MB memory, kita bisa menjalankan 3 guest Operating System.
Dengan demikian kita sudah menghemat penggunaan energi dengan meng-virtualisasikan komputer. Bayangkan dalam hal diatas, satu komputer menggunakan 150 Watt, kita menghemat 450 Watt.
Sabtu, 10 Oktober 2009
Jumat, 25 September 2009
Kenapa AC Inverter lebih hemat daya?
AC (Air Conditioning) Inverter lebih hemat daya karena compressor AC mengatur pendinginan secara terus menerus. Hal ini berbeda dengan AC konvensional yang compressor nya tidak dapat mengatur frekwensi putaran kipas, bekerja maksimal sampai suhu tertentu, kemudian mematikan kipas. Pada saat suhu naik, kompressor akan bekerja kembali. Demikian seterusnya.
Dapat dilihat pada gambar di bawah ini, bahwa pada saat compressor dihidupkan, daya yang digunakan lebih besar.

Name inverter diambil dari perubahan AC (Alternating Current - arus bolak balik) ke DC (Direct Current - arus searah) dengan rectifier. Jadi arus AC PLN diubah menjadi DC, pengaturan Pulse Wide Modulation (PWM) tersebut digunakan untuk menggerakan motor compressor. Dengan PWM, compressor diatur untuk bekerja dengan kecepatan yang berbeda beda untuk menjaga suhu ruangan.
Suhu ruangan yang telah di-set dijaga suhunya oleh compressor, sehingga fluktuasi suhunya kecil. Berbeda dengan Air Conditioning konvensional, dimana setelah suhu tersebut tercapai compressor berhenti bekerja, dan akan bekerja lagi bila suhu ruangan mulai meningkat.
Air Conditioning Inverter lebih murah dioperasikan (berhubungan dengan tagihan listrik), memiliki daya tahan yang lebih tinggi, dan tidak bising. Kekurangannya tentu saja lebih mahal.
Lalu bagaimana dengan AC dengan tenaga surya? Penggunaan DC untuk mengatur putaran motor compressor pada Air Conditioning, pada prinsipnya dapat dimplementasikan dengan panel surya. Baca artikel Air Condtioning dengan panel surya.
Dapat dilihat pada gambar di bawah ini, bahwa pada saat compressor dihidupkan, daya yang digunakan lebih besar.

Name inverter diambil dari perubahan AC (Alternating Current - arus bolak balik) ke DC (Direct Current - arus searah) dengan rectifier. Jadi arus AC PLN diubah menjadi DC, pengaturan Pulse Wide Modulation (PWM) tersebut digunakan untuk menggerakan motor compressor. Dengan PWM, compressor diatur untuk bekerja dengan kecepatan yang berbeda beda untuk menjaga suhu ruangan.
Suhu ruangan yang telah di-set dijaga suhunya oleh compressor, sehingga fluktuasi suhunya kecil. Berbeda dengan Air Conditioning konvensional, dimana setelah suhu tersebut tercapai compressor berhenti bekerja, dan akan bekerja lagi bila suhu ruangan mulai meningkat.
Air Conditioning Inverter lebih murah dioperasikan (berhubungan dengan tagihan listrik), memiliki daya tahan yang lebih tinggi, dan tidak bising. Kekurangannya tentu saja lebih mahal.
Lalu bagaimana dengan AC dengan tenaga surya? Penggunaan DC untuk mengatur putaran motor compressor pada Air Conditioning, pada prinsipnya dapat dimplementasikan dengan panel surya. Baca artikel Air Condtioning dengan panel surya.
Label:
AC Inverter,
Hemat energi
Rabu, 23 September 2009
Lampu Hijau dengan Lampu LED

Lampu hemat energi, adalah lampu fluorescent. Umumnya kita membaca di kotak lampu adalah bahwa lampu 15 Watt CFL setara dengan lampu 60 Watt lampu pijar. Lebih hemat lagi. Kalau mengenai biaya, lumayan juga. Lampu pijar 60 Watt harganya sekitar Rp. 4.000, sedangkan lampu CFL harganya sekitar Rp. 25.000. Ada sekitar 8 kali lipat.
Berarti dengan 60 Watt, kita bisa menggunakan sampai dengan 4 x lampu CFL. Lebih terang bukan?
Disebut lampu pijar karena cahaya yang didapatkan pemanasan. Cara kerja: listrik dialirkan pada filamen, terjadi pemanasan sehingga menghasilkan cahaya. Lampu pijar tidak efisien, karena 90% dari energi menjadi panas.
Lampu halogen adalah lampu pijar dengan filamen terbungkus gas halogen. Lampu halogen lebih tahan lama dibandingkan lampu pijar biasa.
Lampu fluorescent adalah'gas discharge lamp', dimana listrik digunakan untuk men'excite mercury vapor'. Mercury menyebabkan cahaya ultraviolet gelombang pendek memproduksi fluoresce phospor.
Pernah dengar lampu LED? Nah lampu ini lebih hemat dibandingkan dengan kedua lampu tersebut diatas. Lumen adalah parameter untuk penerangan. 1 Watt LED menghasilkan 100 lumen. Kalau CFL 1 Watt menghasilkan antara 40 - 60 Lumen, sedangkan untuk lampu pijar 1 Watt menghasilkan 8 - 15 lumen.
Satu hal lagi, mengenai daya tahan lampu. Lampu pijar memiliki daya tahan 1000 jam. Lampu CFL, 6000 jam. Lampu LED sekitar 50.000 jam.
Mau beli lampu LED? Coba simak disini: www.panelsurya.com
Label:
Hemat energi,
Lampu CFL,
Lampu LED
Sabtu, 19 September 2009
Belajar Tenaga Surya untuk Listrik dan Penerangan
Listrik yang dihasilkan tenaga surya dengan menggunakan cermin yang dipusatkan pada satu penerima, dan juga dengan menggunakan panel surya dari photovoltaic.
Pembangkit listrik yang umum adalah menggunakan panel surya photovoltaic. Panel surya menghasilkan listrik dari sinar matahari, diubah menjadi arus searah. Arus searah tersebut biasanya disimpan dalam aki. Dengan menginstalasi panel surya di atas atap rumah, kita sudah dapat menghasilkan tenaga listrik. Listrik yang dihasilkan tidak begitu besar, karena hal tersebut tergantung dari besarnya panel surya dan efisiensi.
Perhitungan adalah dalam watt per jam. Misalnya panel surya 50 Watt per jam lebih kecil dari 100 Watt per jam. Karena karakteristik matahari, umumnya untuk Indonesia, kita menghitung hasil maksimun tenaga listrik yang dihasilkan adalah sekitar 4 - 5 jam. Katakanlah dengan menggunakan 2 panel surya 100 Wp makan hasil maksimun adalah 2 x 100 x 5 = 1.000 Watt per hari. Jumlah Ampere yang dihasilkan adalah 1.000/ 12 V = 83 Ampere. Kita bisa menggunakan aki 12 V 100 Ah (Ampere hour) untuk menyimpan energi listrik tersebut.
Berapakah banyak lampu yang bisa kita pergunakan? Asumsi kita adalah menggunakan lampu DC CFL (Compact Fluorescent Lamp).
1 x 15 Watt x 12 jam = 180 Watt - untuk lampu depan rumah
1 x 15 Watt x 12 jam = 180 Watt - untuk lampu belakang rumah
4 x 15 Watt x 5 jam = 300 Watt - untuk lampu ruang keluarga
2 x 15 Watt x 4 jam = 120 Watt - untuk lampu ruang makan
3 x 15 Watt x 3 jam = 135 Watt - untuk lampu 2 ruang tidur
Total kebutuhan rumah adalah = 915 Watt.
Lalu bagaimana dengan TV? Kulkas? Berarti kita membutuhkan lebih banyak panel surya, dan batere. Akan tetapi TV dan Kulkas kan menggunakan arus bolak balik (AC). Iya PLN menghasilkan listrik bolah balik, sedangkan panel surya menghasilkan listrik searah (DC). Berarti untuk itu dibutuhkan inverter.
Perhitungan diatas dalam kondisi ideal, artinya pemakaian adalah sesuai dengan waktu yang disebutkan. Memang masih ada sisa 85 Watt per hari, yang akan terus disimpan di batere, yang dapat digunakan pada saat pemakaian lebih ataupun pada saat cuaca mendung.
Bagaimana dengan biaya? Perhitungan kasar adalah sebagai berikut:
Biaya per Watt hour untuk panel surya adalah Rp. 60.000, berarti kita butuh dana 200 x 60.000 = Rp. 12.000.000
Biaya charge controller 20 Ampere adalah sebesar Rp. 1.000.000
Biaya per Ampere hour untuk aki adalah sebesar 20.000 = 100 x 20.000 = Rp. 2.000.000
Total dana yang kita butuhkan adalah Rp. 15.000.000.
Informasi mengenai pembangkit listrik mandiri dengan tenaga surya dapat dibaca di panelsurya.com
Pembangkit listrik yang umum adalah menggunakan panel surya photovoltaic. Panel surya menghasilkan listrik dari sinar matahari, diubah menjadi arus searah. Arus searah tersebut biasanya disimpan dalam aki. Dengan menginstalasi panel surya di atas atap rumah, kita sudah dapat menghasilkan tenaga listrik. Listrik yang dihasilkan tidak begitu besar, karena hal tersebut tergantung dari besarnya panel surya dan efisiensi.
Perhitungan adalah dalam watt per jam. Misalnya panel surya 50 Watt per jam lebih kecil dari 100 Watt per jam. Karena karakteristik matahari, umumnya untuk Indonesia, kita menghitung hasil maksimun tenaga listrik yang dihasilkan adalah sekitar 4 - 5 jam. Katakanlah dengan menggunakan 2 panel surya 100 Wp makan hasil maksimun adalah 2 x 100 x 5 = 1.000 Watt per hari. Jumlah Ampere yang dihasilkan adalah 1.000/ 12 V = 83 Ampere. Kita bisa menggunakan aki 12 V 100 Ah (Ampere hour) untuk menyimpan energi listrik tersebut.
Berapakah banyak lampu yang bisa kita pergunakan? Asumsi kita adalah menggunakan lampu DC CFL (Compact Fluorescent Lamp).
1 x 15 Watt x 12 jam = 180 Watt - untuk lampu depan rumah
1 x 15 Watt x 12 jam = 180 Watt - untuk lampu belakang rumah
4 x 15 Watt x 5 jam = 300 Watt - untuk lampu ruang keluarga
2 x 15 Watt x 4 jam = 120 Watt - untuk lampu ruang makan
3 x 15 Watt x 3 jam = 135 Watt - untuk lampu 2 ruang tidur
Total kebutuhan rumah adalah = 915 Watt.
Lalu bagaimana dengan TV? Kulkas? Berarti kita membutuhkan lebih banyak panel surya, dan batere. Akan tetapi TV dan Kulkas kan menggunakan arus bolak balik (AC). Iya PLN menghasilkan listrik bolah balik, sedangkan panel surya menghasilkan listrik searah (DC). Berarti untuk itu dibutuhkan inverter.
Perhitungan diatas dalam kondisi ideal, artinya pemakaian adalah sesuai dengan waktu yang disebutkan. Memang masih ada sisa 85 Watt per hari, yang akan terus disimpan di batere, yang dapat digunakan pada saat pemakaian lebih ataupun pada saat cuaca mendung.
Bagaimana dengan biaya? Perhitungan kasar adalah sebagai berikut:
Biaya per Watt hour untuk panel surya adalah Rp. 60.000, berarti kita butuh dana 200 x 60.000 = Rp. 12.000.000
Biaya charge controller 20 Ampere adalah sebesar Rp. 1.000.000
Biaya per Ampere hour untuk aki adalah sebesar 20.000 = 100 x 20.000 = Rp. 2.000.000
Total dana yang kita butuhkan adalah Rp. 15.000.000.
Informasi mengenai pembangkit listrik mandiri dengan tenaga surya dapat dibaca di panelsurya.com
Label:
panel surya,
solar cell,
solar energy,
solar panel
Langganan:
Postingan (Atom)